Ultimate magazine theme for WordPress.

2020, Akankah Jadi Akhir Era Game Dota 2?

23

Sponsored

Dota 2

Siapa yang tidak mengenal game Dota 2, game bergenre MOBA tersebut merupakan game yang paling banyak dimainkan oleh para pemain game dalam 1 dekade terakhir ini. Ratusan ribu hingga jutaan pemain memainkan game Dota 2 setiap harinya. Dota 2 pulalah yang mempunyai turnamen esports dengan hadiah terbesar didunia dimana pada turnamen The International 9 tahun lalu mempunyai total hadiah sebesar 34,3 juta dollar Amerika atau sekitar 480 milyar rupiah.

Namun akankah dominasi game Dota 2 akan terus berlanjut ditahun 2020 ini. Ataukah masa kejayaan game garapan valve tersebut sudah mencapai puncaknya dan sudah saatnya untuk meredup. Ada beberapa alasan mengapa para pemain Dota 2 mulai meragukan masa depan game kesayangannya tersebut. Apakah total hadiah turnamen terbesar yang terus mereka banggakan itu akan berlanjut ditahun 2020 nantinya. Ataukah game Dota 2 akan tinggal sejarah saja seperti game Starcraft dan Starcraft 2 yang dahulu menjadi primadona.

Salah satu alasan semakin menurunnya jumlah pemain Dota 2 adalah pemain yang memilih untuk pensiun dan memainkan game baru lebih banyak dari pada pemain baru yang mencoba untuk belajar. Terlebih lagi Dota 2 membutuhkan skill pemrmainan yang tinggi yang tidak bisa dikuasai oleh pemain baru dengan cepat dan mudah. Hal tersebut menjadikan para pemain baru enggan dan malas untuk memainkan game Dota 2.

Skill gap (jarak skill) antara satu pemain dengan pemain lainnya juga cukup tinggi. Pemain lama memuncaki daftar peringkat MMR tertinggi dunia saat ini. Tidak ada nama baru yang muncul semenjak tahun 2015an. Bahkan ada beberapa pemain yang mempunyai 3 atau bahkan lebih akun yang berada di jajaran tertinggi MMR saat ini. Pada skill level pertengahan juga sama, pemain dengan MMR 2000 mempunyai skill yang jauh berbeda dengan pemain MMR 3000, begitu halnya dengan pemain dengan MMR 5000. Ketimpangan skill itulah yang membuat para pemain kini mulai bosan untuk memainkan game Dota 2 lagi.

Pembaharuan dan pembaharuan terus dilakukan oleh Valve selaku publisher dari game Dota 2. Pembaharuan digunakan untuk membuat pemain tidak bosan dan supaya permainan lebih balance (seimbang) lagi. Namun apakah pembaharuan dari valve tersebut manjur? Nampaknya tidak semudah itu. Game yang terlalu lama membuat valve putar otak untuk mengubah game Dota 2 lebih cepat dan menarik lagi. Hal yang dikorbankan adalah semakin unbalance (tidak seimbangnya) permainan. Skill hero yang semakin menggila dan item-item yang diluar nalar adalah salah satu contohnya.

Esport , Satu – Satu nya bisa di banggakan?

Game yang unbalance dalam Dota 2 juga berdampak pada kompetisi esportsnya. Salah satu tim yang sebelum patch atau pembaharuan dari valve bisa tampak garang dan susah untuk dikalahkan bisa menjadi tim papan bawah karena pembaharuan besar yang akhir-akhir ini dilakukan oleh valve. Bukan itu saja, saat ini minim sekali pemain-pemain dan tim-tim baru yang dapat menembus turnamen papan atas dari Valve. Berbeda pada awal tahun 2013-2015an saat banya tim-tim bertarung sengit satu sama lain dan nama-nama baru bermunculan dan menjadi cikal bakal pemain Dota 2 terbaik saat ini seperti notail, w33, miracle-, dan sumail.

Turnamen DPC (Dota Pro Circuit) yang coba diimplementasikan oleh valve pada 3 tahun terakhir juga akan dirubah pada tahun 2021 mendatang. Turnamen tersebut sebetulnya mencontoh turnamen-turnamen esports dari game lainnya yang terlihat lebih konsisten dan tertata rapi dari pada turnamen independet (mandiri) yang dahulu ada dalam game Dota 2. Tahun 2021 mendatang turnamen kelas internasional akan dikurangi oleh valve. Apakah pada turnamen The International 10 tahun 2020 ini hadiah yang selalu dibanggakan dari game Dota 2 akan tembus menjadi hadiah turnamen esports terbesar lagi? Nyatanya valve hanya menyediakan hadiah sebesar 1,6 juta dollar Amerika saja, sisanya adalah sumbangan para pemain Dota 2 yang membeli Dota 2 battle pass.

Salah satu hal yang menghancurkan game Starcraft 2 adalah buruknya komunitas didalam game. Banyak pemain yang toxic dan rasis satu sama lain. Bahkan ada kasus salah satu pemain esports yang dikeluarkan dari tim karena berkomentara menyangkut SARA saat pertandingan berlangsung. Komunitas dalam game Dota 2 juga tidak kalah buruknya, banyak pemain berperilaku toxic didalam permainan. Hal ini yang membuat para pemain baru ataupun lama me2020sa jengah dan memilih berhenti untuk memainkan game Dota 2.

Selain itu regional negara-negara dimana pemain memainkan game Dota 2 juga sudah mulai terlihat jelas. Dimana mereka kebanyakan berasal dari game Dota Allstar (Dota 1) seperti China, Asia Tenggara, Russia, dan Amerika Selatan. Valve kesulitan untuk menjaring pemain-pemain baru dari kawasan Eropa dan Amerika Serikat karena game League of Legends yang begitu mendominasi. Meskipun beberapa pemain negara di Eropa juga memainkan game Dota 2, saat ini League of legends semakin digemari dan kemungkinan pemainnya akan terus meningkat daripada game Dota 2.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Example Site - Frequently Asked Questions(FAQ)